Dan Jin-pun Tahu

Dan Jin-pun Tahu

Sampai agustus tahun 2017 kemarin, lebih dari 56,000
ha lahan di Indonesia mengalami kekeringan. Berbagai
pihak tentu dari waktu ke waktu telah berusaha untuk
meminimize kekeringan ini beserta dampaknya – yang
hampir selalu berulang ini dengan caranya masingmasing.
Maka apabila ada satu cara yang paling efektif
dan terjamin kebenarannya untuk mengatasi kekeringan
tersebut, mestinya ini layak untuk diaplikasikan di
seluruh wilayah negeri ini. Cara apa itu ? itulah cara yang
bahkan jin-pun tahu.

Sebagaimana janjiNya di dalam Al-Qur’an bahwa “…Kami
turunkan kitab ini kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu,
petunjuk, rahmat dan kabar gembira…”(QS 16:89) , maka
sudah seharusnya kita bisa merujuk pada Al-Qur’an ini untuk
menyelesaikan masalah-masalah yang besar maupun yang kecil
yang kita hadapi dalam kehidupan kita.

Dalam masalah pertanian khususnya dan ekonomi umumnya,
kekeringan adalah masalah besar negeri ini – dampaknya
langsung pada ketersediaan dan keterjangkauan pangan bagi
seluruh rakyat. Karenanya sudah selayaknya kita mulai
menggunakan petunjukNya yang baku dan terjamin
kebenarannya sepanjang jaman untuk mengatasi persoalan
yang besar ini.

Berikut saya intisarikan ke dalam 9 poin untuk pengelolaan air
mengikuti petunjukNya, agar kita bisa terhindar dan bisa
mengatasi problem seperti kekeringan tersebut di atas.

Pertama, air merupakan komponen utama untuk membedakan
bumi yang mati dengan bumi yang hidup. Bumi dan seisinya ini
dihidupkan oleh Allah dengan air yang turun dari langit – air
hujan. Ada lebih dari 20 ayat di Al-Qur’an yang menjelaskan ini,
seperti di QS 2:22, 6 :99 dan seterusnya.

Adanya pengulangan penjelasan yang begitu banyak juga
mengisyaratkan bahwa kita harus betul-betul memperhatikan
apa-apa yang diulang-ulang tersebut. Kita harus bener-bener
bisa mengambil pelajaran dan petunjuk yang terkait dengan air
yang turun dari langit atau air hujan ini. Kita harus sangat
paham tentang waktunya, kwantitasnya, daerah turunnya dlsb,
agar kita bisa bener-bener mengelolanya.

Kedua, secara specific Allah menyebutkan bahwa segala yang
hidup dari air (QS 21:30), semua jenis hewan dari air (QS
24:45) dan manusia-pun dari air (QS 25:54). Ini sekaligus juga
mengingatkan dan menekankan – tidak ada yang bisa hidup tanpa air, maka kepatuhan kita mengelola air mengikuti
petunjukNya merupakan keharussan yang teramat penting.

Ketiga, Dia menjamin bahwa air tersebut turun sesuai ukuran,
tidak kurang tiga ayat yang menegaskan ini (QS 13:17; 23:18
dan 43:11). Artinya apa ini ? Air sebenarnya disediakan cukup
olehNya, hanya manusia diuji – agar dia beramal yang paling
baik, antara lain untuk bisa mengelola air yang menjadi sumber
kehidupan tersebut.

Keempat, diantara sekian banyak jenis air yang tersedia – Dia
memilihkan kita air yang sangat bersih – yaitu air yang
diturunkan dari langit atau air hujan (QS 25:48). Jadi air hujan
ini adalah berkah bagi penduduk bumi, air yang sangat bersih
sebagai sumber khidupan – maka kita harus berjibaku untuk
menyelamatkannya tetes demi tetesnya, agar dia tidak sampai
lari ke laut begitu saja. Apalagi kalau sampai sengaja dipercepat
dan dibuang ke laut sebelum turunnya – yang menunjukkan
kegagalan kita dalam pengelolaannya.

Kelima, Air hujan yang tersimpan di bumi dan kemudian
menimbulkan mata air – harus dikelola dengan keadilan.
Bahkan keadilan dalam pengelolaan air ini merupakan indicator
bagi keadilan secara keseluruhan. Kaumnya Nabi Saleh Alaihi
Salam, dihancurkan oleh Allah karena oligopoly 9 orang yang
berbuat kerusakan di bumi – indicatornya adalah penguasaan
sumur air oleh segelintir orang tersebut (QS 26:155 ; QS
54:28).

Keenam, sepandai-pandainya kita, setinggi-tingginya teknologi
kita – kita diingatkan oleh Allah – hanya Dia yang bisa
‘menyimpan air’ ( QS 15:22). Selain Dia tidak ada yang mampu
menghadirkan air ini bila sumber air kita itu mengering
: “…Terangkanlah kepadaku jika sumber air kamu menjadi
kering, maka siapa yang akan memberimu air yang mengalir
?” (Qs 67:30).

Ketujuh, Allah memberi isyarat kita dimana Dia menyimpan air
– yaitu pada system perakaran tanaman-tanaman tertentu.
Yang secara specific disebut adalah kurma (QS 36:34), tetapi
bisa juga tanaman-tanaman yang lain berfungsi yang sama –
meskipun bisa jadi tidak seefektif kurma. Ini juga sejalan dengan mengapa kita diperintahkan menanam bibit kurma,
meskipun rangkaian peristiwa kiamat telah mulai.
Selain di perakaran tanaman, ada petunjuk lain yang sangat
penting – karena sampai diulang tiga kali – yaitu air yang
‘tersimpan di batu’, karena batu-pun bisa memancarkan mata
air ! Petunjuk ini dua kali dinisbatkan kepada mukjizat Nabi
Musa ( QS 2:60 dan QS 7:160), tetapi juga berlaku untuk kita !
Bagaimana bisa ?
Selain mukjizat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam –
yaitu Al-Qur’an meliputi mukjizat seluruh nabi-nabi, juga ada
satu ayat lain yang tidak terkait dengan Musa
yang menguatkan bahwa dari batu itu bisa memancar mata air
dan bahkan juga sungai.
“…Padahal dari batu-batu itu pasti ada sungai-sungai yang
memancar daripadanya. Adapula yang terbelah lalu keluarlah
mata air daripadanya…” (QS 2:74). Bagaimana aplikasinya di
lapangan ? inilah bagian dari tantangan ilmu dan teknologi
manusia modern untuk membuktikannya.
Kalau sekarang belum ada teknologi yang bisa
membuktikannya, bisa jadi memang belum waktunya – karena
“Untuk setiap berita ada waktu terjadinya dan kelak kamu akan
mengetahui.” (QS 6:67)

Kedelapan, ada dua indicator tanah yang subur ketika dia
mendapatkan air yang cukup – yaitu ihtazzat dan warabat,
tanah yang bergetar dan mengembang . Dua indicator ini
disebut juga di dua ayat yang senada yaitu di akhir QS 22 : 5
dan di QS 41:39.

Kesembilan, setelah kita diberi tahu seluk-beluk air untuk
kehidupan seluruh ciptaanNya dari tanaman, binatang dan
manusia – dan metode pengelolaannya di bumi ini, masih
sangat mungkin kita mengalami kekurangan air atau
kekeringan. Tetapi untuk ini-pun kita diberi solusi
pamungkasnya, yaitu dengan beristigfar (QS 71:10-11) dan
bahkan solusi satu lagi jin-pun tahu yaitu senantiasa tetap
berada di jalanNya (QS 72:16). InsyaAllah !

 

Sumber : Buku Beyond The Horizon Karya Muhaimin Iqbal

Mengenal lebih dalam pak Muhaimin Iqbal klik link http://www.rumahwakaf.org/biografi-muhaimin-iqbal/