Menjadikan Sabar dan syukur Bergandeng Tangan

0
573
Ketika saya ingin membincangkan satu kata ini, saya ingin sekali mengajak sahabat pembaca untuk mengingat-ngingat kembali, kapan terakhir anda menggunakan kata sabar dalam ucapan anda? Kapan terakhir anda menggunakan kata sabar untuk saudara anda, sahabat anda, orang tua anda, atau bahkan rekan kerja anda?
Ketika anda mengingatnya, maka penting sekali kembali mempertanyakan, sabar yang anda ucapkan itu, untuk menunjukan kondisi pelik, emosi, dan sedih ataukah untuk menunjukan kondisi bahagia, lapang, dan senang?
Hampir rata-rata kita menggunakan kata sabar untuk memberikan pengingat atas kondisi-kondisi yang tidak diinginkan. Kemudian mengesampingkan sabar ketika mendapati situasi yang baik.
Padahal sabar berlaku untuk keduanya. Sebagai contoh, ketika anda dapati anda sedang tidak punya uang, tidak punya tabungan, kemudian anda memiliki keperluan dengan uang itu, atau hutang bulanan yang harus dibayar, lantas uang anda kurang atau belum ada. Kemudian datanglah kepada Anda, orang yang menagih hutang anda. Anda kemudian sampaikan “maaf, saya belum punya uang, bolehkan saya meminta keringanan waktu?”. Tapi permintaan anda ditolak, pada akhirnya anda di jelek jelekan dengan ungkapan si penagih”. Kemudian anda harus pontang panting cari tambahannya, sampai anda ketemu orang yang ingin bantu anda, dengan nasihat “sabar yah, ini adalah ujian”.
Atau ketika anda emosi dengan sikap rekan kerja dikantor, kemudian rekan satu meja anda menasehati “sabar, dia memang begitu orangnya” anda pun menarik nafas dan mengelus dada.
Memang begitulah sabar, Allah posisikan untuk memperkuat keteguhan seorang manusia atas ketetapanNya. Ia tahu, bahwa manusia akan sangat lemah ketika mendapatkan ujian, sehingga perlu satu bahasa yang lembut untuk mengingatinya. Inilah kata cinta dari Rabb, yang hadirnya menjadi kekuatan seorang insan kamil ; Sabar.
Sabar dalam Al Quran dan hadits pun digunakan pada kondisi yang memang bukan lapang, diantaranya untuk menghadapi ujian, tekanan orang-orang kafir, peperangan, dan nasihat kesabaran.
Lalu dikondisi lain, anda mendapatkan kebahagiaan uang yang melimpah, anda bisa membeli apapun dengan uang itu. Apakah kita menggunakan sabar dalam hal ini? “sabar yah neng, kamu dapat uang banyak sekali” atau anda dapati anak anda pintar dan juara dikelasnya, lantas kita nasihati “sabar yah jeng, anakmu pintar sekali”
Sabar dalam kelapangan tentu patut di diamalkan, namun konteks dalam kelapangan tentu lebih tepat pada kata syukur. Adapun sabar dalam kelapangan tentu sabar dalam mengendalikan kelapangannya, seperti sabar dalam keuangan, maka ia sabar untuk menggunakannya dengan proporsional, tidak mentang mentang banyak uang ia pakai dengan sembronoh.
Biarkan sabar dan syukur bergandengtangan, tentu menjadi kebaikan tatkala keduanya kita jabat dengan erat, menjadi perisai dunia akhirat.
Menutup tulisan ini, ungkap sabda Rosululloh tercinta “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapat kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.” HR. Muslim Wallahua’lam
Penulis : @Bangnadash