Ternyata Para Ulama dan Ilmuwan di Era Kejayaan Islam Mewakafkan Koleksi Bukunya Untuk Perpustakaan

0
43

Di era kejayaan Islam, masjid adalah tempat penting bagi para ulama dan ilmuwan. Di masjid para intelektual berkumpul dan mengkaji ilmu pengetahuan. Hasil diskusi tersebut dituangkan dalam buku-buku yang terus bertambah sepanjang waktu. Sehingga terbentuklah perpustakaan di dalam satu kompleks dengan masjid dan tidak bisa dipisahkan. Perpustakaan berasal dari kegiatan berbasis ilmu yang dilaksanakan di masjid. Buku-buku yang dikaji menjadi satu dalam perpustakaan dan diwakafkan kepada masjid. sebagai contoh di Masjid Sufiya yang terletak di Aleppo Suriah terdapat koleksi buku yang mencapai 10 ribu buku yang merupakan wakaf dari Pangeran Sayf Al Dawla, pemimpin Aleppo di masa lampau. Beliaulah yang mempelopori gerakan wakaf buku ke perpustakaan masjid dan diikuti oleh para ilmuwan lainnya di Aleppo.

Contoh lainnya adalah wakaf buku di Masjid Abu Hanifah Irak yang berisi buku-buku wakaf dari koleksi pribadi, salah satunya adalah Yahia Ibnu Jazla seorang dokter dan Al Zamakhashari seorang sejarawan. Perpustakaan Al Qawariyyin merupakan perpustakaan tertua di muka bumi yang juga berawal dari wakaf buku dan masih tetap berdiri sampai sekarang. Dengan adanya perpustakaan di masjid maka semakin banyak orang-orang yang membaca buku. Perpustakaan masjid juga menyimpan koleksi buku tua yang tetap terjaga dan masih bisa ditemukan oleh generasi-generasi selanjutnya.

Beberapa perpustakaan masjid memang sudah musnah dan tidak bisa ditemukan lagi. Namun semangat wakaf tidak akan pernah padam sampai kapan pun. Berkat wakaf, ilmu-ilmu pengetahuan tetap lestari dan menjadi teladan bagi generasi selanjutnya.